Sepasang suami istri telah hidup bersama selama sepuluh tahun. Keduanya memiliki kesepakatan yang dipegang sejak menikah dan hidup berumah tangga. Sang suami tak ingin ponselnya dibuka, sedangkan sang istri melarang dia membuka laci mejanya.
Kesepakatan yang telah berjalan lancar selama sepuluh tahun akhirnya mulai goyah. Sang suami penasaran dengan isi laci meja istrinya. Setelah dibuka, ternyata isinya hanya dua butir kacang hijau dan uang lima ribu rupiah.
Sang suami bingung dan menanyakan pada istrinya, “Sayang, ternyata yang tidak boleh kuketahui hanya dua butir kacang hijau dan selembar uang lima ribu, apa maksud itu semua?”
Sambil kecewa dan pasrah istrinya menjawab, “kau telah melanggar janji, tapi baiklah akan aku ceritakan semuanya asal kau jangan marah.”
“Pastilah, sayangku, kita sudah berjalan sepuluh tahun.”
“Maafkan aku, suamiku, sebenarnya aku wanita hina, aku pernah selingkuh. Setiap aku selingkuh, aku meletakkan sebutir kacang hijau di laci meja sebagai pengingat agar tak mengulangi lagi.”
“Tak apalah, kan cuma dua kali selingkuh, sementara aku sendiri sudah belasan kali,” ucap suami sambil memeluk istrinya.
Keduanya berpelukan dan saling memaafkan dan memaklumi. Namun, masih ada satu yang mengganjal.
“Lalu, apa arti uang lima ribu rupiah itu?” tanya suami penasaran.
Sang istri sambil menangis terisak menjawab, “Karena laci meja terlalu kecil dan tidak muat, aku jual kacang hijau lainnya hingga laku lima ribu rupiah.”
0 Comments