Udin sebagai penduduk baru di komplek rumahnya, datang ke rumah tetangga sebelahnya yang dihuni oleh satu orang nenek-nenek.
Udin: “Permisi nek. Perkenalkan, nama saya Udin. Saya penghuni baru rumah yang paling ujung itu.”
Nenek: “Oh, tetangga baru ya! Mari…mari…masuk. Silakan duduk dulu.”
Udin: “Aduh enggak usah nek, cuman sebentar kok. Niatnya cuma mau mampir sebentar buat silaturahmi, malah jadi ngrepotin.”
Nenek: “Nggak apa-apa. Masuk aja!”
Di meja ruang tamu si nenek terdapat banyak sekali makanan kecil. Di tengah-tengah obrolan, Udin sangat ingin mencicipi kacang mede yang ada di hadapannya
Udin: “Wah, kacang medenya kayaknya enak nih, nek. Boleh saya cicipi, ya?”
Nenek: “Oh, iya…iya..boleh. Silahkan!”
Awalnya hanya beberapa buah kacang mede, sampai habis satu toples saking enaknya rasa dari kacang mede tersebut dimakan Udin
Udin: “Waduh, maaf nek. Kacang medenya sampai habis nih saya makan.”
Nenek: “Oh, nggak apa-apa Bu. Nenek juga nggak bisa makan. Maklum gigi nenek udah nggak kuat. Jadi ceritanya nenek kan sering dikirimin sama cucu nenek coklat Silver Queen, tapi nenek cuma bisa jilatin coklatnya aja. Daripada kacang medenya kebuang, ya nenek kumpulin aja semua ke dalam toples itu. Kalau abis ya malah syukur, enggak kebuang.”
0 Comments